0

PENDIDIKAN AL-QURAN

BAB I PENGERTIAN POKOK TENTANG AL-QURAN
A. Al-Quran menurut Bahasa
Beberapa ulama memiliki masing-masing pendapat tentang pengucapan Al-Quran, diantaranya adalah : Syafi’I, Al-Farra dan Al Asyari yang menyatakan Al-Quran harus diucapkan tanpa huruf hamzah. Sementara Al-Zajjaj dan Al Lihyani mneyatakan sebaliknya.
Menurut Al-Syafi’I kata Al-Quran adalah asli dan tidak dipungut dari kata lain. Menurut Al-Farra kata Al-Quran berasal dari Al-Qarain, jamak dari Qarinah yang berarti kawan.Menurut Al-Asyari  Al-Quran berasal dari kata Qarana yang berarti menggabungkan.  Menurut Al-Zajjaj berasal dari AlQar’u yang berarti himpunan. Menurut Al-Lihyaini berasal dari kata kerja Qara’a (membaca) dengan padanan fu’lan dengan aeri Maqru berarti dibaca/bacaan.

B. Definisi Al-Quran
Prof.Dr.Syekh Mahmud Syaltut : Lafal Arab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan disampaikan kepada kita secara mutawatir.
Dr.Muhammad Shubhi Shalih : Kalam yang mu’jiz (dapat melemahkan orang yang menentangnya) yang diturunkan kepada Nai SAW, yang tertulis dalam mashhaf yang disampaikan pada kita secara mutawatir dan membacanya dianggap ibadah.
Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Al-Buthi : Lafal arab yang mu’jiz yang diwahyukan pada Nabi Muhammad SAW yang membacanya dianggap ibadah dan sampai kepada kita dengan cara mutawatir.
Dr.Muhammad Ali Ash Shabuni : Kalamullah yang mu’jiz yang diturunkan pada nabi & rasul terakhir dengan perantara malaikat Jibril AS yang ditulis dalam Mashaf disampaikan secara mutawatir dimulai dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas.
Salim Muhsin : Firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang tertulis dalam mashaf-mashaf dan dinukil (diriwayatkan) nsecara mutawatir dan dipandang ibadah dengan membacanya serta menantang orang yang tidak mempercayainya untuk membuat yang serupa meskipun hanya satu surat yang pendek.

C. Sifat-sifat esensial Al-Quran
a. Al-Quran adalah Kalam (firman) Allah SWT yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW
b. Kalam Allah tersebut diturunkan melalui perantara malaikat Jibril
c. Kalam Allah tersebut diturunkan dalam bahasa Arab., baik lafal maupun maknanya.
d. Kalam Allah tersebut disampaikan secara mutawatir.
e. Kalam Allah tersebut merupakan petunjuk bagi manusia juga Mujizat bagi Rasul SAW
f. Kalam Allah yang bernilai ibadah jika dibaca.

D. Nama-Nama Al-Quran
a. Al-Kitab : tulisan/yang ditulis
b. Al-Zikr : peringatan
c. Al-Furqan : Pemisah

BAB II BAGIAN-BAGIAN AL-QURAN
Al-Quran terdiri dari 114 bagian yang disebut surah/surat yang maknannya adalah mulia, derajat/tingkat. Setiap surat memiliki beberapa bagian kecil yaitu Ayat yang maknanya adalah tanda, pelajaran, sesuatu yang mempesona. Pada kesimpulannya Ayat adalah sebagian kecil dari Al-Quran yang terdiri dari beberapa buah kalimat atau sebuah kalimat yang tersusun dari beberapa patah kata yang berdiri sendiri lepas dari sebelum dan sesudahnya, ada permulaan dan ada akhirnya yang dihitung sebagian dari surat.
A. Klasifikasi Surat-surat Al-Quran dan nama-namanya.
a. Klasifikasi menurut panjang pendek surat
1. Al Sab’u Al-Thiwal : surat panjang, contoh : Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, Al-Araf, Al Anam, Al-Maidah, Yunus
2. Al-Miun : terdiri dari 100 ayat atau lebih, contoh : Hud, Yusuf
3. Al-Matsani : kurang dari 100 ayat, contoh : Al-Anfal, At-Taubah, Al-Hajj
4. Al-Mufhashshal : surah pendek, contohj : Al Alaq, Al Qdr, Annas
Surat terpanjang (1/12) adalah Al-Baqarah (286 ayat), yang terpendek adalah Al-Kautsar (3 ayat).
Kata yang dipakai untuk member nama suatu Surat ada yang dari luar surat (contoh : Al-Fatihah, Al-Ikhlash) ada juga yang dari ayat surat tersebut sendiri (Thaha, Al-Baqarah, Al-Maun)
B. Jumlah Ayat
Banyak pendapat mengenai jumlah ayat dalam Al-Quran, diantaranya adalah :
- 6205 menurut ulama bashrah
- 6214 menurut ulama madinah
- 6220 menurut ulama Makkah
- 6226 menurut ulama syam
- 6236 menurut ulama kufah
Perbedaan jumlah ayat tersebut disebabkan oleh perbedaan pendapat mengenai :
- Status Fatihat Al-Surat (pembuka surat)
- Status Basmallah dipermulaan surat
- Akhir dan penghabisan ayat.
Jumlah kata dalam Ak-Quran adalah 77.439 buah menrutu Imam Atha bin Yasar (Madinah), sementara jumlah hurufnya adalah 325.345 buah.
C. Pembagian Al-Quran
Al-Quran dibagi dalam 30 Juz yang sama panjangnya. Tujuannya agar pembacanya dapat menyelesaikan bacaan Al-Quran dalam 30 hari atau 1 bulan.
Selain itu juga ada pembagian 7 Hizb, tujuannya agar dapat diselesaikan dalam  7 hari/1 minggu. Pembagian hizb tersebut adalah ;
- Al-Baqarah, Ali Imran, An Nisa (3 surat)
- Al-Maidah, Al An’am, Al A’raf, Al Anfal, Al Taubah (5 surat)
- Yunus, Hud, Yusuf, Ar-Ra’ad, Iberahim, Al-Hijr, Al-Nahl (7 surat)
- Al-Isra, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, Al Anbiya, Al hajj, Al muminun, Al Nur, Al Firqan (9 surat)
- Al Syura, Al Naml, Al Qhasash, Al Ankabut, Al Rum, Luqman, Alif Lam Mim, Al Sajadah, Al Ahzab, Saba, Fathir, Yasin (11 surat)
- Al Shafat, Shad, Al Zumar, Ghafir, Ha Mim, As-Sajadah, Ha Mim, Ain Sin Qaf, Al Zahruf, Al Dukhan, Al Jatsiyah, Al Ahqaf, Al Qital, Al Fath, Al Hujarat (13 surat)
- Hizb mufashshal (surat-surat pendek  dari al Qaf – Al Nas

BAB III ISI DAN KANDUNGAN AL-QURAN
A. Klasifikasi Kandungan Al-Quran
1. Aqidah yang wajib di imani,
utamanya mengenai rukun iman yang jadi pembeda iman dan kafir
2. Hukum-Hukum Praktis
Hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, diri sendiri dan sesame manusia hingga lingkungan
3. Akhlaq yang mulia
Untuk mendidik rohani manusia menjadi lebih luruh
4. Janji
Bahwa setiap perbuatan akan mendapat balasan, baik maupun buruk/
B. Al Quran berisi petunjuk Universal
Kitab-kitab terdahulu (Taurat,Zabur, Injil) hanya berlaku bagi bani israil. Sementara Al Quran untuk seluruh umat manusia. Karena kitab Al-Quran kitab terakhir maka isinya pun berlalu universal hingga akhir zaman. Jika ada masalah baru yang terdapat dalam Al-Quran maka ulama akan menggunakan Ijtihad untuk pemecahannya, pun demikian dasar-dasar umum dalam Al-Quran lah yang dipakai oleh ulama-ulama tersebut. Al-Quran menjelaskan sesuatu itu berarti Al Quran memuat sesuatu yang bersifat Al-Qawanin Al Ammah (peraturan-peraturan umum) dan Al Mabadi Al Kulliyah (prinsip-prinsip yang universal) yang dapat diterapkan dalam berbagai problema kehidupan manusia.

BAB IV. AL QURAN ADALAH KALAM ALLAH
A. Alquran menyatakan bahwa ia berasal dari Allah SWT bukan dari Hasil Karya Nabi Muhammad SAW.
Didalam Alquran banyak dijumpai ayat-ayat yang menyatakan bahwa kitab suci ini berasal dari Allah SWT, misalnya dalam surat Al-Zumar ayat 1-2, Al A’raf ayat 203 dan Yunus ayat 5.
Beberapa fakta sejarah yang mendukung hal ini diantaranya adalah
1. Mulanya nabi SAW selalu terburu-buru dalam menghafal ayat-ayat Al-Quran yang sedang dibacakan Jibril. Jika memang Alquran hasil karya beliau, tentu beliau tidak perlu buru-buru menghafal karena pasti menguasai.
2. Dalam Alquran banyak dijumpai ayat-ayat yang berisi teguran dan kritik mengenai sikap Nabi SAW, misalnya pada Surat At-Taubah ayat 84 tentang larangan menyalatkan orang-orang kufur, fasik sebagaimana tokoh munafik Abdullah bin Ubai.
3. Dalam Alquran terdapat ayat-ayat yang mulanya tidak diketahui maknanya oleh Nabi SAW sampai turun ayat lain yang menjelaskan. Misalnya tentang Surat Al Baqarah ayat 284.
4. Dalam Alquran terdapat ayat-ayat yang berisi informasi historis tentang masa lalu maupun yang akan datang.
5. Dalam Alquran terdapat informasi-informasi yang sesuai dengan hasil penemuan ilmiah abad modern, baik yang berkenaan dengan alam semesta, manusia, flora, fauna dan lainnya secara global.

B. Nabi Muhammad SAW tidak pernah membaca kitab & belajar pada orang Yahudi dan Nasrani.
Menurut Kreamer sebagian isi Alquran diperoleh dari kitab perjanjian lama, sedangkan ajaran tentang hari kiamat asalnya dari agama masehi. Padahal walaupun ada sebahagian persamaan, banyak pula dijumpai ajaran/informasi yang berbeda bahkan bertentangan diantara kitab-kitab tersebut.
Dalam surat Al Ankabut akat 48 juga dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah membaca kitab-kitab terdahulu tersebut.
Dalam Surah Al A’raf ayat 158 juga dijelaskan bahwa Nabi SAW adalah seorang yang Ummi yaitu tidak pandai membaca dan menulis



C. Al-quran tidak dapat ditandingi
Dalam sejarah tidak ada yang mampu memandingi dan menyamai alquran, baik dari segi kepetahan, keindahan bahsa, gaya, susunan, pemilihan kata , nilai sastra dan kepadatan serta kebenaran isinya.
Seperti yang dijelaskan dalam surat Al Anfal ayat 31 mengenai tantangan seorang Quraisy Al Nadlar bin Al Harits namun tidak bisa membuktikan tantangannya. Juga ada surat Hud ayat 13-14  yang isinya menantang setiap orang yang ragu terhadap alquran untuk membuat 10 surat. Karena tidak ada yang sanggup maka tantangannya dikurangi jadi 1 surat saja sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 23. Meskipun manusia bekerja sama dengan bangsa Jin pun, tetap tidak akan mampu menandingi alquran sebagaimana dalam surat Al Isra ayat 88.
Sabda Nabi SAW meskipun tidak dapat disaingi oleh manusia biasa tetap saja ucapannya sebagai manusia, sehingga kadang sulit membedakan antara perkataan nabi dan sahabat, kita baru dapat membedakannya setelah mengetahui sampai mana sanad-sanadnya berakhir.

BAB V PROSES TURUNNYA AL-QURAN
A. Alquran diturunkan dalam bentuh Wahyu Matluw
Sunah Allah dalam berbicara pada seseorang yang dikehendakinya ada 3 cara yaitu :
- Melalui Wahyu
Berupa isyarat yang cepat (al isyarat al syariah) yang dimasukkan dalam hati seseorang (al ilqa fi rawi)
- Berfirman dibalik tabir
Seseorang dapat mendengar firman Allah tetapi tidak dapat melihat-Nya
- Melalui Malaikat Jibril
Melalui perantara Malaikat Jibril, Ruh Al-Qudus dan Ruh Al Amin/
Karena Alquran berisi risalah Allah SWT yang terakhir maka turunnya dengan cara yang paling mulia yaitu melalui malaikat jibril dengan bahasa yang benar-benar pasti sesuai dengan yang tertulis di Surat AL Syura 1920195 dan Al Nahl 102. Peran Jibril dalam menyampaikan Alquran kepada Nabi SAW hanya sekedar membacakan apa yang diterimanya secara Harfiah dari Allah SWT, baik pengertian maupun kata-katanya adalah langsung dari Allah SWT. Inilah yang disebut Wahyu Matluw, wahyu yang dibacakan pada nabi dengan kata-kata yang jelas.
Menurut penjelasan Nabi SAW, Jibril menyampaikan Alquran melalui 2 cara :
1. Jibril tidak menampakan diri, hanya terdengar bunyi seperti lonceng (kepakan sayap malaikat), Nabi harus memiliki keruhanian yang tinggi agar mampu masuk dalam alam malaikat yang non-inderawi
2. Jibril menampakkan diri dan bercakap-cakap layaknya manusia sehingga Nabi mudah menghafal wahyu tersebut.
Beberapa peristiwa yang terjadi ketika turunnya wahyu sebagaimana diceritakan sahabat antara lain :
- Aisyah RA : Nabi SAW bercucuran keringat padahal udara dingin
- Ubadah ibn Shamit : Nabi terliaht lelah dan pucat
- Zaid bin Tsabit : ketika paha nabi menindih paha nya maka terasa beban sangat berat sehingga dia takut tulangnya remuk,
- unta pun terjerembab pada saat nabi menerima wahyu
- Abdullah Bin Umar : Nabi mengatakan seperti mendengar lonceng dan terdiam, tak lama wahyu turun dan nabi merasa jiwanya melayang.
Selain itu buktu bahwa Alquran adalah wahyu Matluw adalah perbedaan yang Nampak jelas antara Hadist, Hadist Qudsi dan Alquran
- Hadist : berasal dari nabi lafal dan maknanya (lafhzan wa ma’nan)
- Hadist Qudsi : makna/ide nya dari Allah dan lafalnya dari Nabi, dengan menisbahkannya pada Allah dengan mengatakan qala Allah Ta’ala
- Alquran : makna dan lafalnya dari Allah SWT

B. Alquran Diturunkan secara berangsur-angsur
Alquran tidak diturunkan secara sekaligus melainkan berangsur-angsur. Yang pertama diturunkan adalah Al-Alaq ayat 1-5 di Gua Hira di Jabal Nur, 3 mil dari kota Makkah. Terjadi pada malam senin 17 ramadhan tahun ke 41 usia Nabi, 13 tahun sebelum hijrah ke Madinah atau Juli 610 M. Malam turunya Alquran ini disebut dengan malam Lailatul Qadar / lailatul Mubarakah dalam Surat Al-Qadr ayat 1 dan Al-Dukhan 3-4.
Ketetapan mengenai 17 ramadhan ada di surat Al Anfal ayat 41 yaitu dalam kata yaum iltaqa al jam’an (hari bertemunya dia pasukan, yaitu mislim dan kafir quraisy dalam perang  badar pada 17 ramahdan. Selain itu juga dalam surat Al-Baqarah ayat 165.
Ada pula pendapat yang menyatakan kalau surat yang pertama turun adalah surat Al-Fatihah, Karen a :
- Al fatihah terletak di permulaan
- Isi alquran tersimpul dalam al fatihah
- Dalam Dalail Nuburwah yang menurut riwayat yang diceritakan Al Baihaqi al fatihah disebut yang pertama diturunkan.
Selain pendapat tersebut ada pula riwayat dari Al Bukhari dan Muslim dalam kitab Jami Al Shalih masing-masing bahwa Surat Al-Mudatsir adalah yang pertama diturunkan.
Pada kesimpulannya, Al-Alaq 1-5 adalah ayat-ayat yang pertama diturunkan, sementara al Fatihah adalah surat yang turun secara lengkap pertama kali, sementara Al-Mudatsir ialah surat pertama yang isinya mengenai perintah untuk menyampaikan risalah ketuhanan pada manusia.
Setelah surat al Mudatsir diturunkan (setelah Al-Alaq) tepatnya ketika nabi berada di rumah Khadijah, setelah pulang dari gua hira, maka Ayat-ayat ak Quran terputus turun (farat al wahyi) . Ada yang menyatakan masa putusnya wahyu tersebut 3 hari, 15 hari, 40 hari dan bahkan 2,5 tahun sampai 3 tahun.
Kemudian diturnkan surat al Mudatsir 1-10 mengenai perintah menyebarkan agama, rasul  sangat ragu-ragu hingga gelisah dah berniat menerjunkan diri ke jurang hingga turunlah surat Al-Dhuha 1-11. Setelah itu turun ayat selanjutnya sesuai situasi yang dihadapi masyarakat islam waktu itu.
Ayat Al-Quran terakhir yang diturunkan kepada Rasul adalah Ayat ke 3 dari surat al Maidah saat Nabi wukuf diarafah dalam rangka haji wada pada hari jumat 9 Zulhijjah, 10 H, atau 63 tahun usia beliau. Setelahnya Nabi wafat pada 81 malam setelah itu.
Riwayat lain menyebutkan ayat terakhir yang diturunkan adalah :
- Ibn Abbas yang diceritakan Al Bukhari : surat Al baqarah Ayat 287 tenteng riba
- Umar yang diceritakan Imam Ahmad dan ibn Majjah : surat Al baqarah Ayat 287 tenteng riba
- Al Nasai dari Said bin Jubair dan Ibn Abbas : Surat Al Baqarah Ayat 281
- Said ibn Musayyah : Surat Al Baqarah ayat 282

C. Priodesasi Turunnya Al Quran
Menurut Syekh Al Khudlari dalam Tarikh Tasyri turunnya Al Quran dari 17 Ramadhan tahun ke 41 kelahiran Nabi sampai 9 Zulhijjah tahun ke 63 usia beliau yaitu 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Ada dua priode yaitu
- Priode Mekkah
Sering disebut ayat-ayat Makkiyah, dimulai saat 17 ramadhan 41 tahun usia Nabi sampai Awal Rabiul Awal usi 54 nabi saat hijrah ke Madinah. Selama 12 tahun 5 bulan 14 hari dan mencakup 19/30 juz
- Pridode Madinah
Sering disebut ayat-ayat  Madaniyah sejak nabi hijarah kesana hingga 9 julhijjah yaitu 9 tahun 9 bulan 9 hari mencakup 11/30 juz

Ciri-ciri Khusus
- Ayat Makkiyah
adalah ayat-ayat yang turun sebelum Nabi hijrah ke madinah.
Dalamnya ada ayat sajadah
Dalamnya terdapat lafaz Kalla (33x dalam 15 surat)
Terdapat kata-kata Ya Ayyuha al-nas dan tidak terdapat Ya Ayyuha Allazi na amanu (kecuali an-nas dan Al hajj)
Dalamnya terdapat cerita tentang Iblis, Adam, Para Nabi dan Umat terdahulu (kecuali Al-Bawarah dan Ali Imran)
Permulaannya terdapat Fatihat al Surat
- Ayat Madaniyah
Terdapat legalisasi Jihad / perang
Terdapat hukum tentang keluarga, perdata, masyarakat, Negara, hak, kewajiban, faraidl, dan sanksi
Terdapat ayat-ayat mengenai cirri-ciri orang munafik (kecuali Al-Ankabut)
Kritik terhadap sikap ghuluw / berlebih-lebihan dalam masalah agama pada para Ahli Kitab

Ciri-Ciri Umum
- Ayat Al-Makiyah
Surat pendek-pendek
Nada keras dan bersajak
Isinya mengajak iman pada Allah dan hari kemudian, berbudi luhur dan loyal pada kebaikan
Mengkritik dan membeberkan kekeliruan orang musyrik
Sumpah Allah dan keterangan tentang surge dan neraka
- Ayat Al Madaniyah
Surat dan ayat panjang-panjang
Gaya bahasa dan penjelasan hukum bernada datar
Argumen dan dalil tentang hakikat dan kebenaran islam rinci
Menurut para ulama ada 28 surat Al madaniyah, 1623 ayat dan ada 86 surat al Makkiyah dalam 4613 ayat.
D. Hikmah turunnya Al Quran secara berangsur-angsur
1. Memperkuat hati Rasus SAW, baik dalam mengingat maupun dalam melaksanakan tugas kerasulan (Al Furqan 32)
2. Memudahkan para sahabat menyimak, mempelajari, memahami dan menghafalkan (Al isra 106)
3. Agar selalu sesuai dengan situasi dan kondisi serta perkembangan muslimin.
4. Agar dapat dihayati secara mendalam oleh para sahabat
E. Al Quran diturunkan dalam 7 Harf
Selain diturunkan secara berangsur dalam bentuk wahyu matluw, juga dalam 7 harf. Adapun pengertian harf ini bermacam-macam.
- Menurut Thabari 7 harf adalah 7 bahasa arab
- Menurut Ibn Qutaibah 7 harf adalah 7 wajah dari bahasa dalam Alquran
- Menurut Abd Al Fadhl Al Razi perbedaan bacaan Alquran tidak lepas dai 7 harf
Latar belakang 7 harf ini antara lain :
1. Legalisasi pembacaan alquran dalm 7 harf terjadi di priode madinah
2. Memudahkan orang membaca alquran
3. Tidak bersifat mutlak
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perbedaan 7 harf adalah berbedaan dialek, pengucapan suatu husuf/kata akibat perbedaan suku, bangsa, etnis, usia dan pendidikan.

BAB VI ALQURAN PADA MASA NABI MUHAMMAD SAW
A. Semua ayat telah dihafal oleh para sahabat
Umumnya bangsa arab utamanya para sahabat orang-orang ummi (tidak bisa membaca dan menulis) namun mereka memiliki ingatan yang kuat. Beberapa factor yang mendorong mereka jadi penghafal Alquran adalah :
- Alquran berisi ajaran dan petunjuk tentang kehidupan yang baik, beradab, sejahtera lahir bathin yang belum pernah mereka miliki sebelumnya.
- Membaca dan mengajarkan Alquran adalah yang utama dalam islam
- Orang yang pandai dalam membaca dan menghafalnya akan mendapat prioritas ditunjuk jadi imam sholat berjamaah.
- Rasul sendri memerintahkan kepada sahabat untuk memelihara Alquran dengan sebaik-baiknya.

B. Semua Ayat Alquran telah ditulis oleh para sahabat
Rasul menyuruh sahabat untuk menulis ayat-ayat alquran ke atas benda-benda yang dapat ditulisis, misalnya pelepah tamar, kepingan batu, potongan katu, sobekan kain, keratin tualng, lembar kulit binatan yang sudah disamak,dsb. Jumlah sahabat yang telah menuliskan Alquran cukup banyak tidak kurang dari 43 orang

C. Semua ayat danSurat telah disusun seperti sekarang
Untuk menjaga kemurnian Alquran, Rasul SAW juga menyuruh sahabat untuk menetapkan ayat-ayat alquran pad suratny masing-masing,
Mengenai susunan surat dalam alquran ada beberapa pendapat yaitu :
1. Taufiki (ditetapkan rasul berdasarkan wahyu)
Rasul telah membaca beberapa surat dalam salat secara berurutan
Menurut riwayat Al Bukhari dari Ibn Masud
Riwayat Sulaiman Ibn Al Hilal dari Rabiah
Diantara surat-surat yang dimulai dengan huruf hijaiyah yang sama, ada yang berurutan ada yang terpisah.
Penyesiaoan urutan mashaf utsmani dengan urutan bacaan Rasul sewaktu sholat
2. Ijtihadi (para sahabat yang menyusunnya)
Sebelum standarisasi mashaf Alquran masa Utsman, susunan para sahabat tidak sama
Riwayat Ibn Abbas yang bertanya pada Utsman,
Dari sejarah dan riwayat dapat disimpulkan bahwa susunan surat Alquran adalah taufiqi bukan Ijtihadi.

BAB VII ALQURAN PADA MASA ABU BAKAR & UMAR RA
A. Latar Belakang Munculnya Ide Pengumpulan Alquran pada masa Abu Bakar RA
Setahun setelah Rasul wafat terjadi perang besar di Yamamah antara kaim Muslim dengan pengikuit Musailamah Al Kazzab. Banyak muslim yang sahid bahkan ada 70 orang qari dah hafizd Alquran yang tewas.
Hal ini membuat umar khawatir dan menympaikan ide pada Khalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan Alquran. Walau Abu Bakar sempat ragu karena rasul tidak pernah melaksanakannya, namun karena terus didesak umar dan demi kebaikan maka Abu Bakar bersedia.
B. Zaid ibn Tsabit ketua pelaksana yang ditunjuk Abu Bakar untuk pengumpul Alquran
Alasan menunjuk Zaid ibn Tsabit adalah :
1. Ia adalah seorang pemuda, punya tenaga lebih, lebih terbuka pandangannya dan mau menerima pandangan seniornya
2. Ia adalah seorang yang cerdas dan kecerdasannya diakui oleh para sahabat
3. Ia seorang yang amanah dan terpercaya
4. Selain hafal quran ia juga penulis wahyu paling banyak.
C. Zaid hanya mengumpulkan catatan-catatan alquran yang asli ditulis dihadapan Rasul SAW
1. Tahap Pertama
Meneliti dan mencari catatan-catatan alquran yang telah ditulis atas perintah Nabi, mengumpulkan dalam satu mashaf. Syarat Untuk di catat dan dimasukkan dalam mashaf adalah :
a. Catatan asli yang dirulis di hadapan rasul
b. Catatan tersebut harus dibuktikan kebenarannya oleh 2 orang saksi.
2. Tahap Kedua
Mengumpulkan catatan tersebut dalam satu mashaf setelah disalin diatas lembaran-lembaran suhuf/kertas dengan ukuran yang sama sesuai dengan urutan dari rasul. Lembaran tersebut lalu di jahit dengan benang dan di letakkan di suatu tempat kemudian diserahkan kepada Khalifah Abu Bakar RA.
Waktu pengumpulan dan penyalinan ini kurang lebih satu tahun lamanya,dan member nama kumpulan itu Al-Mushhaf.  Mushaf tersebut mendapat dukungan secara aklamasi dan mutawatir dan telah mencakup 7 harf sebagaimana pada masa rasul saw.
D. Kumpulan Alquran hasil Kerja Zaid menjadi Mushhaf Resmi
Pengumpulan Mushhaf tersebut atas perintah dan tanggung jawab Negara, oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa itu adalah pengumpulan resmi khalifah. Oleh karena itu mushhaf tersebut menjadi mushhaf resmi dan sumber rujukan bagi seluruh umat muslim.

E. Mushhaf  Resmi identik dengan Alquran yang pernah dibacakan Rasul SAW
Berkat kerja keras Zaid dan para sahabat maka terwujudlah mushhaf yang direncanakan dengan isinya yang identik tanpa kekurangan, kelebihan atau peribahan sesuai dengan yang di bacakan Rasul SAW.

F. Alquran pada Masa Khalifah Umar RA
Setelah Khalifah Abu Bakar RA wafa pada 31 H, Umar ibn Khatab menggantikannya. Adapun yang dilakukan oleh Umar adalah :
- Menyimpan Mushhaf tersebut
- Mengirim guru-guru alquran keberbagai negeri Islam
- Memantau dan memonitor Qiraat yang dipakai guru guru alquran
Setelah Umar tewas ditangan Abu luluah seorang nasrani, mushhaf resmi tersebut disimpan oleh Hafsah, putrid beliau sekaligus janda rasul SAW. Ketika Hafsah wafat maka mushhaf tersebut diambil dan dibakar oleh Khalifah marwan bin Hakam karena isi mushhaf tersebut sudah termuat dalam mashhaf al imam, dan kerena takut orang ragu atas isi mushhaf ini.


BAB VIII ALQURAN PADA MAA UTSMAN RA
A. Motivasi Pengumpulan Alquran pada masa Utsman RA
Pengumpulan Alquran pada masa Utsman adalah dalam bentuk menstandarisasikan bacaan kaum muslimin kepada satu bacaan Alquran yang resmi. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan bacaan atau susunan dari mushhaf resmi. Sehingga perlu adanya penyeragaman bacaan dalam satu harf.
B. Upaya yang dilaksanakan dalam menyeragamkan bacaan alquran
1. Meminjam mushhaf resmi pada hafsah
2. Membentuk panitia dan bertugas untuk
Menyalin mushhaf resmi kedalam beberapa mushhaf
Meneliti kelengkapan mushhaf resmi
Jika ada perselisihan mengenai bacaan maka dikembalikan pada logat quraisy karena alquran diturunkan dalam bahasa tersebut.
3. Mushhaf yang telah disalin dikirim keberbagai pusat islam
4. Memerintahkan kaum muslimin untuk membakar mushhaf yang tidak sesuai dengan mushhaf imam.
C. Penyeragaman Qiraat Alquran mendapat dukungan luas dan positif dari pata sahabat dan kaum muslim
Setelah mushhaf tersebut dibagi-bagikan mama kaum muslim sangat menerima. Kecuali muslim kuffah yang masih mempertahankan mushhaf ibn masud. Ibn Masud tidak mau menuruti perintah khafilah sebab dia mengira zaid menyusun sendiri mushhaf tersebut, padahal dia lebih senior dari zaid. Namun setelah dia tau mushhaf tersebut disususn kepanitiaan dan diterima banyak sahabat dia mau menuruti perintah khalifah dan membakar mushhaf miliknya.
D. Penyeragaam Qiraat tidak bertentangan dengan Sunah Rasul
Izin untuk membaca alquran dalam 7 harf adalah karena keterbatasan umat muslim terdahulu merubah dialek /logat/harf mereka sesuai dengan harf quraisy. Namun karena dibiarkan berbeda maka menimbulkan perpecahan karena tiap suku merasa bacaannya yang paling benar.  Dengan demikian langkah penyeragaman yang dilaksanakan Utsman RA dalam rangka menyelamatkan umat islam dari perpecahan tepat dan tidak bertentangan dengan Sabda Rasul SAW.


E. Penyalinan Mushhaf Utsmani dilaksanakan dengan cermat dan teliti
Karena tujuan penyeragaman adalah untuk persatuan umat islam, maka pengerjaannya sangat teliti, mencari kekurangan dari catatan mushhaf asli dan menyempurnakannya dalam logat quraisy.
Meski demikian ada beberapa hal yang sempat dipertentangkan oleh orang orang yang ragu pada mushhaf utsmani ini diantaranya adalah mengenai tudahan dibuangnya 2 surat yaitu Al Khalu dan Al Hifd, namun dapat dibantah karena :
Meski doa qunut di tulis ubay namun bisa saja ubay menulis dalam mushhafnya karena takut doa ini hilang
Miski Umar memnaca qunut dengan Bismillah hal ini karena rasul menganjurkan untuk memulai bacaan dengan bismillah
Uslub doa qunut jauh dengan uslub alquran
Ubay tidak pernah protes dalam pengumpulan alquran karena doa qunut tidak dimasukan
F. Rasm yang dipakai dalam mushhaf Utsmani
1. Hazf (penghapusan)
2. Ziyadah (penambahan)
Meski ada perbedaan antara rasm utsmani dengan system imlai namun pengucapannya sama. Imali adalah penyempurnaan dari bentuk-bentuk penulisan sebelumnya dan muncul lebih kemudian dari utsmani.

BAB IX ALQURAN PADA MASA PASCA UTSMAN RA
A. Penulisan Alquran disertai titik dan tanda baca
Tulisan para sahabat pada mushhaf utsmani adalah tulisan kufi tanoa titik dan tanda baca. Lama kelamaan muncul kerusakaan dalam membaca alquran (lahm) . Hingga menumbulkan kekhawatiran pada masa daulah umayyah.
Penguasa yang paling berjasa adalah Ubaydiallah bin ziyad bin Abihi (w 67 H) Gubernur Basrah dan Al Hajjaj ibn Yusuf Al Tsakafi (w 95 H) Gubernur Iraq, usahanya yaitu memberi alif pada 2000 kata yang tidak ada alif nya. Kemudian meminta bantuan pada Abu Al Aswad Al Duwali ( w 69 H) seorang tokoh dan peletak dasar-dasar kaidah ilmu nahwu (tata bahasa arab) untuk membuat tanda-tanda baca alquran.
B. Qiraat yang sah telah di bukukan.
Akibat dari Mushhaf resmi yang tidak ber titik dan tanda baca membuat kaum kafir barat menuduh mengakibatkan beragam qiraat. Namun menurut ulama-ulama seperti syekh Thahir Al-Qurdi dan Dr.Abd Al halim Al Najjar, bukan tulisan arab yang membuat perbedaan qiraat, sebab Alquran diturunkan dengan kata perkata, ayat perayat dan surat persurat melalui lisan dan penyimakan, di riwayatkan secara mutawatir bermacam generasi. Perbedaan qiraat ini sesuai dengan sabda Nabi SAW bahwa Alquran diturunkan dalam 7 harf dan boleh dibaca menurut harf yang termudah.
Dengan demikian perbedaan qiraat bukan dari rasm (tulisan) mushhaf, melainkan dari Rasul SAW sendiri. Qiraat adalah yang asal sedangkan rasm adalah yang mengikutinya,. Hingga abad ke 2-3 banyak sekali akhir qiraat, sehingga ulama membatasi qiraat yang sesuai dengan mushhaf utsmani.
Beberapa imam yang diikuti bacaannya adalah
Mekkah
Imam Abdullah Ibn Katsir
Wafat 120 H
Sempat bertemu dengan Anas Ibn malik, Abadullah Ibn Al Zubair, Abu Ayyub Al- Anshari
Madinah
Nafi ibn Abd Al Rahman ibn Nu’aim
Wafat 169 H
Menerima qiraat dari 70 tabiin yang mempelajari qiraat dari Ubay ibn Kaab, Ibn Abbas dan Ibn Hurairah
Syam
Abdullah ibn Amir
Wafat 118 H
Menerima qiraat dari Al Mughirah ibn Syubah Al Makhzumi yang menerima dari Utsman ibn Affan, dan sempat bertemu Numan ibn Basyir & Wailah ibn AL Aqsha
Kuffah
Hamzah ibn Habib Al Zayyat
Wafat 118 H
Menerima qiraat dari Sulaiman Ibn Mihran Al Amasyi yang menerima dari Yahya ibn Wastsab dari Zurr ibn Hubaisy dari Utsman, Ali dan Ibn Mas’ud
Kuffah
Ashim Ibn Abi Al Najud Al Ashadi  & Ali Ibn Hamzah Al Kisai
Wafat 189 H
Menerima qiraat dari Zurr bin Hubaisy dan Abdullah ibn Mas’ud.
Pada akhir Abad ke 4 H muncul seirang Ulama bernama Abu Bakar Ahmad Ibn Musa ibn Abbas  atau yang lebih dikenal dengan Ibn Mujahid yang wafat pada tahun 324 H dari bahgdad yang berhasil menghimpun qiraat para imam diatas kecuali dari Ya’qub dan menatakan mereka sebagai qari-qari yang sah.
Ulama Lainnya uaitu Al Jazari membagi klasifikasi qiraat menurut sanadnya menjadi 6 macam yaitu :
1. Qiraat Mutawatir, yang diriwayatkan orang banyak yang dipastikan tidak berdusta
2. Qiraat Masyur, yang popular dikalangan ahli qiraat walau tidak sampai mutawatir
3. Qiraat Ahad, walau sahih sanadnya tapi tidak sesuai dengan salah satu segi dari mushhaf atau bajasa arab, ini tidakboleh di baca dalam sholat dan tidak boleh diyakini kebenarannya.
4. Qiraat Syazz, qiraat menyimpang dan tidak sahih sanadnya
5. Qiraat Maudlu, qiraat palsu yang tidak ada dasarnya
6. Qiraat Mudraj, qiraat yang menambahkan penafsiran dalam ayat alquran.
C. Alquran telah dicetak
Percetakan Alquran dibagi dalam 3 priode yaitu :
- Klasik (1500-1900)
- Modern (1920-1980)
- Digital Mushhaf
Menurut sejarah Alquran pertama dicetak dan diterbitkan di Venice 1530 M, Basel 1543 M. Kemudian 1694 M di Hamburg,. Tahun 1698 seorang pendeta Italia, Ludovisi Mamaci di Padous Prancis berhasil menyusun naskah Alquran berdasarkan rujukan manuskrip dengan terjemahan latin yang cermat hasil ia mempelajari Alquran dan Tafsir selama 40 tahun.  Tahun 1787 lahir percetakan islam khusus alquran di Saint Peterbourg dan Qazan. 1828 M di Teheran, Iran. 1933 di Tibriz. Tahun 1834 Gustav Flugel orientalis jerman telah mencetak Alquran di Leipzig. 1877 M juga lahir percetakan di India.
Pada tahun 1342 H / 1923 M, berdasarkan keputusan raja Fuad I, dimulai percetakan Alquran di Qairo Mesir. Dibawah pengawasan Para Syaikh Al Azhar, khat nya ditulis oleh Syaikh Muhammad Ali Khalaf Al Husaini yang dicetak sesuai riwayat hafsh dari Ashim.
Di Indonesia percetakan Alquran harus mendapat persetujuan Kementerian Agama. Adapun lembaga khusus yang mengontrolnya adalah Lajnah Pentashih Mushhaf Alquran. Tugasnya mengoreksi dan mentashihkan setiap terbitan Alquran.
Kini era modern, Alquran bukan hanya dalam bentuk cetakan. Juga ada versi digital, melalui software dalam bentuk Disket, CD-Rom maupun dalam jaringan internet. Dengan demikian maka otensitas Al Quran benar-benar terjaga hingga Akhir Jaman sesuai dengan Janji Allah Surah Al Hijr Ayat 9 “Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Al-Ziqr (Alquran) dan sesungguhnya kami (pula) yang menjaganya”.

Posting Komentar

 
Top